Home / Artikel / Serambi Indonesia / Hanok Village, Kampung Tradisional di Era Modern

Hanok Village, Kampung Tradisional di Era Modern

OLEH ZAMZAMI ZAINUDDIN, visiting Researcher di Chonbuk National University, melaporkan dari Jeonju, Korsel

KALAU di Jepang ada Kyoto dengan ratusan situs bersejarah dan berbagai model rumah tradisionalnya, di Korea Selatan (Korsel) ada Hanok Village. Perkampungan kuno dengan ratusan rumah tradisional yang terbuat dari kayu dan batu ini letaknya justru di jantung kota modern, Jeonju.

Jangan berpikir sama seperti perumahan rakyat di tengah kota metropolitan negeri kita yang kumuh dan dipenuhi penduduk miskin, pemandangan di Jeonju Village tentulah sangat berbeda. Meski tergolong perkampungan tradisional, tapi Jeonju memiliki transportasi modern, akses internet gratis di setiap tempat, taman dengan bunga warna-warni, dan kincir air tradisional yang sangat indah dan bersih. Penduduk di kampung ini bukanlah orang-orang miskin. Maka tidak heran jika di setiap rumah tradisional terparkir mobil-mobil mewah.

Ratusan rumah tadisional Jeonju ini tetap dipertahankan bentuk dan keasliaannya serta ditempati oleh penduduk asli Jeonju. Kebanyakan rumah di sini dibangun pada masa Dinasti Joseon (1392-1910).

Honok Village bukan hanya sekadar rumah penduduk, tetapi juga sekaligus destinasi wisata populer di Korsel. Di sini tersedia berbagai kuliner, souvenir, dan pakaian tradisional sewaan. Pengunjung bisa mengenakan pakaian tardisional Korea dan berfoto bersama pasukan penjaga pintu gerbang kerajaan.

Pengunjung juga bisa tinggal (homestay) dengan penduduk di sini dan merasakan langsung berbagai aktivitas yang mereka lakukan.

Ada yang unik pada rumah tradisional Korea ini. Di setiap rumah terdapat sistem pemanas ruangan tradisional menggunakan ondol. Ondol merupakan tungku yang diletakkan di dapur atau ruangan luar rumah untuk mengalirkan panas ke lantai rumah yang terbuat dari papan. Kayu kering, jerami, atau batu bara biasanya dibakar untuk mengalirkan panas dari tungku ke rongga bawah lantai rumah.

Lantai kayu yang biasa digunakan untuk duduk, makan, dan tidur akan terasa hangat terutama pada musin dingin. Secara tradisi, kamar yang paling dekat dengan tungku adalah kamar orang tua atau tamu terhormat karena jika kamar jauh dari tungku, maka kehangatan lantainya akan berkurang.

Namun, seiring dengan perkembangan zaman dan demi menghindari polusi, saat ini ondol yang banyak digunakan adalah yang ramah lingkungan. Lantai rumah dihubungkan dengan pemanas air atau listrik sehingga setiap lantai ruangan akan terasa sama hangatnya.

Hanok Village menjadi tempat edukasi budaya Korsel bagi orang-orang lokal sendiri maupun wisatawan luar. Anak-anak sekolah sering berkunjung ke sini untuk belajar berbagai macam kebudayaan dan seni kerajinan tradisional Korea yang dibuat dengan tangan dan bisa dibawa pulang seperti anting-anting dan gelang.

Begitu juga dengan pembuatan berbagai model keramik tradisional dari tanah liat. Ada juga fotokopi kertas menggunakan alat tradisional yang terbuat dari kayu (wood printing). Memasak masakan tradisional Korea dan pembuatan obat tradisional merupakan aktivitas lainnya yang dilakoni warga Hanok Village dan tamu bisa menontonnya.

Setiap orang yang berkunjung ke sini akan merasakan langsung budaya asli Korea di tengah hiruk pikuk budaya K-Pop yang sedang melanda muda-mudi negeri ginseng ini dan pesatnya perkembangan dunia modern dengan bangunan-bangunan megah berteknologi tinggi.

Saya sempat berpikir tentang Aceh yang tidak seberapa pesat perkembangannya dibanding Korsel, namun sudah sangat sulit kita temukan rumah-rumah tradisional Aceh, bahkan di pelosok daerah sekalipun. Sampai-sampai orang di kampung pun harus datang ke Banda Aceh untuk berfoto dan melihat bagaimana bentuk “Rumoh Aceh” yang sebenarnya. Bahkan mereka harus menunggu empat tahun sekali untuk menyaksikan budaya Aceh dipergelarkan pada Pekan Kebudayaan Aceh. Harusnya Aceh meniru Hanok Village dalam mempertahankan eksistensi dan ketahanan budayanya.

Sumber: Tulisan ini dimuat di Harian Serambi Indonesia (29 Agustus 2014)

About Zamzami Zainuddin

Junior researcher & PhD student, The University of Hong Kong

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *