Home / Artikel / Serambi Indonesia / Ayo Membaca dan Menulis

Ayo Membaca dan Menulis

Oleh Zamzami Zainuddin

“ILMU 
bagaikan binatang liar dan menulis adalah tali pengikatnya. Ikatlah hewan buruanmu dengan tali yang kuat. Adalah bodoh sekali jika anda memburu seekor kijang, kemudian anda lepaskan begitu saja tanpa tali pengikat.” (Imam Syafi’ie).

Itulah ungkapan Imam Syafi’ie yang bermakna jika ilmu yang kita miliki tidak dijaga dalam bentuk tulisan, maka akan mudah lari meninggalkan kita, ibarat binatang liar yang lari tanpa diikat.

Terlepas dari “hitam putihnya” keputusan Dirjen Dikti tentang keharusan mahasiswa S1, S2 dan S3 untuk mempublikasikan karya ilmiahnya. Pada dasarnya, menulis adalah “kewajiban” bagi siapa saja yang berilmu, karena menulis adalah menyebarkan informasi dan ilmu pengetahuan (berdakwah) dan menjaga keutuhan ilmu itu sendiri. Membudayakan menulis pada masyarakat tidak mesti karena pengaruh keputusan Dikti. Seandainya saja tidak ada keputusan tersebut, kegiatan menulis juga harus diaktifkan kepada setiap jenjang pendidikan. Bahkan harus sudah diajarkan secara signifikan kepada mereka yang masih di sekolah dasar. Sehingga menulis menjadi sebuah budaya dan bukan hanya sekedar peraturan yang akan mudah menghilang seiring berubahnya keputusan.

Budaya menulis sudah dipraktikkan oleh ulama-ulama terdahulu dalam Islam disamping kewajiban membaca, menulis memiliki peran yang sangat penting dalam sejarah kejayaan umat Islam. Sehingga banyak buku-buku hasil tulisan para ulama terdahulu masih mempengaruhi dunia sampai saat ini, masih bisa dibaca, dipelajari dan menjadi rujukan oleh seluruh umat manusia. Bahkan hasil karya mereka menjadi pengganti mereka dalam menyampaikan ilmu kepada kita, seolah-olah mereka masih hidup.

 Kekuatan tulisan
Itulah kekuatan dari sebuah tulisan. Tulisan juga mampu membangkitkan semangat perjuangan dan mempengaruhi pandangan seseorang. Sebagai contoh: buku tentang perjuangan soekarno akan mampu menanamkan sikap nasionalisme dan ideologi marhaenisme bagi pembaca, apalagi tersihir dengan kata-kata dahsyatnya. Buku Hasan Al-Banna akan mampu mempengaruhi perjuangan pergerakan Islam Ikhwanul Muslimin, dan buku Karl Marx bepengaruh terhadap perkembangan ideologi komunisme.

Ada beberapa alasan mengapa menulis menjadi menakutkan di kalangan masyarakat kita, seperti alasan kurangnya pengetahuan tentang menulis, takut salah, takut dikritik, dan hilang ide saat menulis. Di kampus, misalnya, organisasi pergerakan mahasiswa, masih kurang efektif dalam hal pengasahan skill menulis, kemampuan berorasi dan mengemukakan pendapat saat “aksi” lebih tumbuh subur dan berkembang dari pada “beraksi” melalui pena.

Pada hakikatnya, kritikan dan pendapat yang disuarakan mahasiswa akan sangat efektif jika disuarakan melalui tulisan. Sebagai contoh: Sepuluh aktivis yang mampu mengemukakan pendapat lewat tulisan akan lebih berpengaruh dari pada lima puluh orang beraksi di jalan. Namun, bagaimanapun juga, setiap orang memiliki hak mengemukakan pendapat dengan berbagai cara sesuai dengan tujuan mereka sendiri.

Tidak bisa dipungkiri bahwa berbagai kemunduran umat Islam dewasa ini bisa dipastikan karena kebiasaan menulis dan membaca yang pernah dipopulerkan oleh para ulama terdahulu telah kitatinggalkan. Sehingga ilmu yang telah didapatkan dengan sangat mudah, juga akan sangat mudah menghilang ibarat binatang liar tanpa ikatan. Belum lagi dengan miskinnya budaya iqra’ (membaca) pada masyarakat kita yang mempengaruhi miskinnya pengetahuan untuk menulis.

Membaca dan menulis adalah suatu ikatan yang tidak bisa dipisahkan, menulis tanpa membaca sama saja seperti membaca tanpa menulis. Menulis adalah intisari dari apa yang kita baca, karena tanpa membaca kita tidak akan mampu menulis. Membaca tidak hanya dalam bentuk tulisan, tetapi bisa saja warna, gambar, suasana dan realita yang terjadi di sekitar kita. Begitu juga, jika membaca tanpa menulis, ilmu yang telah kita kuasai akan mudah lari meninggalkan kita seperti perkataan Imam Syafi’ie tentang binatang liar.

Jadi, membaca dan menulis adalah rotasi perkembangan ilmu pengetahuan yang tidak bisa dipisahkan, bagaikan istilah adat dan ranup (sirih) bagi orang Aceh. Jika aktivitas menulis dan membaca pasif dan terhenti, maka rotasi ilmu juga akan terhenti dan akhirnya mati. Datanglah dunia kegelapan tanpa ilmu pengetahuan, apalagi seiring dengan meninggalnya para ulama, ilmuan, dan guru-guru kita. Tanpa adanya ilmu yang mereka tinggalkan dalam bentuk tulisan, maka warisan keilmuan dari mereka juga akan hilang.

Kemampuan literasi

Dalam hal membaca, sangat disayangkan, kemampuan literasi membaca kita masih di bawah rata-rata. Laporan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, Badan Penelitian dan Pengembangan atas Survey Internasional PIRLS (Progress in International Reading Literacy Study), yaitu studi internasional tentang literasi membaca terhadap siswa sekolah dasar (SD) kelas enam, dari 45 negara yang mengikuti program ini pada 2006, Indonesia berada pada peringkat 41 dalam prestasi literasi membaca, berada jauh di bawah 40 negara lain. Begitu juga dengan PISA (Programme for International Students Assessment), dari 65 negara yang mengikuti program ini pada tahun 2009, kemampuan membaca siswa Indonesia jauh tertinggal pada peringkat 57. (Sumber: Litbang Kemendiknas)

Kembali pada hal menulis, secara tidak sadar setiap hari kita telah menulis, paling tidak menulis SMS (short messege service), E-mail, Facebook, ataupun Twitter. Seyogianya, dengan adanya media seperti jejaring sosial tersebut, bisa dimanfaatkan untuk media menulis.

Mari kita menulis, menjadi “kuli tinta” kebaikan adalah berdakwah secara qalam (pena).

Menulis adalah intrepretasi dari sifat tabligh Rasulullah (menyampaikan), yang kemudian diberengi dengan sifat siddiq (kejujuran) dalam menulis dan menyampaikan, kejujuran dalam pemberitaan bagi wartawan, kejujuran dari sifat plagiarisme bagi mahasiswa, dan kejujuran dalam menyampaikan ilmu pengetahuan bagi guru dan dosen, amanah (terpercaya), sebagai pendakwah secara qalam, penulis juga harus menyelaraskan tulisan dengan perbuatannya sehingga tidak bertolak belakang perbuatan dengan perkataannya dalam tulisan, dan terakhir fathanah (cerdas), menulis dengan cerdas serta dibarengi dengan pengetahuan iqra’ sebelumnya, sehingga tidak terjadi “penamu harimaumu”.

Mari kita membaca, sebagai jendela pembuka cakrawala, kunci kejayaan sebuah bangsa, jembatan penghubung kebuntuan ilmu dan cahaya penerang dalam kegelapan pengetahuan. Mengapa harus takut menulis? Menulis adalah berbicara melalui pena, jika kita mampu berbicara melalui mulut, tentu juga bisa melalui pena. Mengapa harus malas membaca? Membaca adalah landasan sikap bijaksana.

Jika semakin banyak manusia membaca dan menulis, semakin berkembang pula ilmu pengetahuan di dunia ini. Mari kita jadikan membaca dan menulis sebagai sebuah kebutuhan, bukan hanya sekadar selingan dan peraturan. Apalagi, membaca adalah perintah utama agama sebagaimana firman Allah swt dalam Alquran (Surat: Al-‘Alaq).

* Zamzami Zainuddin
, Alumnus Misbahul Ulum Paloh/Alumnus IELSP Iowa State University, Amerika Serikat. Email: zami.aceh.pase@gmail.com

Sumber: Tulisan ini dimuat di Harian Serambi Indonesia (17 Maret 2012)

About Zamzami Zainuddin

Junior researcher & PhD student, The University of Hong Kong

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *