Home / Artikel / Serambi Indonesia / Membangun Internet Edukatif di Aceh

Membangun Internet Edukatif di Aceh

LAPORAN Eksklusif soal games judi online baru-baru ini di Harian Serambi Indonesia menunjukkan penggunaan internet yang tidak sehat dan edukatif di kalangan generasi muda di Aceh. Berbicara masalah internet di Aceh tidak pernah terlepas dari peran warung kopi yang menyediakan fasilitas internet (Wi-Fi) 24 jam. Warung kopi dengan fasilitas internet atau Wi-Fi coffee shop bukan hanya terdapat di Aceh saja, tetapi juga di berbagai Negara. Bahkan, kajian tentang warung kopi dan permasalahan di dalamnya juga sudah diteliti dan dipublikasikan dalam berbagai jurnal internasional.

Di antaranya adalah penelitian yang dilakukan oleh Chin-Shan Wu dan Fei-Fei Cheng (2007) yang mengkaji tentang kecanduan anak muda Taiwan terhadap penggunaan internet di warung kopi (kafe) dan Junhao Hong (2011) yang mengkaji tentang ragam aktivitas masyarakat di warung kopi Wi-Fi di Cina.

Secara umum, hasil penelitian mereka menunjukkan berbagai aktivitas masyarakat di warung kopi baik dari sisi positif maupun negatif. Di sisi positif, anak-anak muda memanfaatkan media internet secara edukatif untuk menyelesaikan tugas kuliah dan berinteraksi dengan pengajarnya, sedangkan di sisi negatif mereka cenderung menggunakan internet untuk menghabiskan waktu bermain game online. Dari dua contoh penelitian ini, penulis ingin mengatakan bahwa fenomena warung kopi, internet dan game online bukanlah isu lokal di Aceh saja, tetapi sudah menjadi isu global di banyak Negara.

Memang segala sesuatu memiliki sisi positif dan negatif seperti fasilitas Wi-Fi pada warung kopi di Aceh. Namun cara arif menanggapi hal tersebut adalah dengan meminimalisir sisi negatif sehingga sisi positifnya lebih banyak muncul dan dipraktikkan dalam kultur kehidupan sehari-hari.

Fasilitas internet
Bagi penulis sendiri, tidak ada yang salah dengan kehadiran banyaknya warung kopi Wi-Fi di Aceh. Malah dengan adanya fasilitas internet di warung kopi akan membantu masyarakat mendapatkan informasi secara cepat melalui akses internet. Bahkan warung kopi pun bisa dijadikan sebagai tempat mengakses ilmu pengetahuan. Lefika dan Mearns (2015) menyebutnya dengan istilah knowledge café, di mana orang-orang berkumpul untuk saling berbagi ilmu pengetahuan (sharing knowledge) baik secara tatap muka langsung (offline) maupun internet (online).

Dalam internet juga terdapat hal-hal baru yang variatif dan inovatif seperti program Massive Open Online Courses (MOOC), mahasiswa bisa memanfaatkan fasilitas internet di warung kopi untuk mengikuti berbagai kelas online internasional. Kuliah bersama profesor dari kampus ternama dunia dan berkenalan dengan banyak teman dari berbagai Negara, bahkan mendapatkan sertifikat kelulusan berstandar internasional. Sayangnya, kurangnya informasi tentang internet edukatif membuat mahasiswa di Aceh lebih banyak meluangkan waktu emasnya untuk bermain game daripada menggunakan internet untuk kegiatan positif dan produktif.

Tentu saja mambangun budaya internet edukatif di Aceh tidak cukup sekadar menganjurkan atau mengimbau generasi muda untuk menggunakan internet secara positif, seperti mengakses bahan-bahan kuliah ataupun sekadar memblokir situs-situs negatif seperti games judi atau pornografi, tetapi juga butuh fasilitasi oleh pihak-pihak tertentu. Dalam hal ini, pengajar (dosen) di kampus memiliki peran sangat signifikan sebagai fasilitator yang memfasilitasi dan mencerdaskan mahasiswa untuk mengakses internet edukatif di luar kelas.

Minimnya penggunaan media internet dalam proses belajar mengajar di perguruan tinggi saat ini menjadi salah satu faktor; mengapa mahasiswa kurang edukatif dalam pemanfaatan internet. Aktivitas belajar-mengajar hanya terbatas di dalam kelas saja dan tidak ada kelanjutan interaksi di luar kelas secara online antara dosen dengan mahasiswa.

Sedikit melirik bagaimana proses belajar-mengajar di luar negeri dengan pendekatan Blended learning yang mengintegrasikan media teknologi dengan pembelajaran konvensional. Meski tatap muka antara dosen dengan mahasiswa dilaksanakan di kelas secara tradisional, media teknologi juga dimanfaatkan untuk proses belajar mengajar dan interaksi di luar kelas atau setelah kelas usai. Mahasiswa disibukkan dengan tugas-tugas yang harus dikumpulkan secara online melalui website (Learning Management System), begitu pula dengan kegiatan diskusi online yang difasilitasi oleh pengajar.

Kegiatan seperti ini tentunya akan menciptakan lingkungan dan aktivitas mahasiswa yang positif dalam pemanfaatan media internet di luar kelas. Proses belajar-mengajar seperti ini juga disebut sebagai pembelajaran berkelanjutan (lifelong learning) dimana proses belajar-mengajar tidak hanya terbatas di dalam kelas saja, tetapi juga di luar kelas.

Tentu aktivitas seperti ini tidaklah sulit diterapkan di Aceh asalkan pengajar mau meluangkan sedikit saja waktunya untuk berinteraksi dan memfasilitasi aktivitas belajar-mengajar informal secara online di luar kelas. Dengan kegiatan seperti ini, secara tidak langsung akan membawa pengaruh positif dan bermanfaat bagi mahasiswa dalam pemanfaatan media internet edukatif.

Selain itu, melalui media internet pengajar juga bisa mendistribusikan materi kuliah secara online, sehingga mahasiswa bisa mempersiapkan diri belajar terlebih dulu sebelum masuk kelas. Dengan kata lain, pengajar mendorong mahasiswa untuk mencari materi dan referensi yang dapat mendukung kegiatan belajar mereka di kelas. Kegiatan seperti tentunya bisa mereduksi penggunaan waktu penyampaian materi di kelas.

Interaksi ‘online’
Dengan adanya inetraksi online antara pengajar dan mahasiswa di luar kelas, tanggung jawab pengajar tidak hanya terbatas di dalam kelas saja saat menyampaikan pelajaran, tetapi juga di luar kelas. Berperan sebagai fasilitator, mentor dan motivator yang memfasilitasi, mementori dan memotivasi mahasiswa untuk mendapatkan ilmu secara mandiri (self-directed learning). Namun lagi-lagi tergantung pada si pengajar, apakah mereka mau meluangkan sedikit waktunya untuk berinterkasi dengan mahasiswa di luar kelas.

Banyak sekali fasilitas website gratis (Learning Management System) yang bisa diaplikasikan oleh pengajar sebagai alat interaksi di luar kelas seperti Blog, Wiki, Panopto, Tegrity 9, Camtasia Studio 9, Moodle Class, Wikispaces, Edmodo, Blendspace dan Schoology. Bahkan jika diaplikasikan secara edukatif, Facebook pun bisa digunakan sebagai platform berbagi ilmu pengetahuan seperti mem-posting isu-isu ilmiah (buku atau jurnal) untuk didiskusikan bersama.

Inilah alasan mengapa para pengajar di perguruan tinggi sangat dituntut untuk mengusai teknologi di era digital sehingga mampu mengarahkan dan memfasilitasi mahasiswa melaksanakan berbagai aktivitas edukatif dan kreatif melalui pemanfaatan media internet.

Dengan banyaknya aktivitas positif di internet perlahan akan meminimalisir aktivitas negatif yang tidak bermanfaat bagi mahasiswa. Secara tidak langsung kita juga akan mampu mengedukasikan warung kopi di Aceh menjadi tempat berbagi dan memperoleh ilmu pengetahuan (knowledge café). Kita juga akan mudah melihat mahasiswa-mahasiswa di warung kopi di Aceh sibuk berdiskusi tentang ilmu pengetahuan, mengerjakan tugas kuliah, berinteraksi dengan pengajar dan mengakses situs-situs edukatif.

Terakhir, tulisan ini sekaligus menjadi masukan bagi perguruan tinggi di Aceh agar menyediakan fasilitas internet gratis bagi mahasiswanya di kampus. Jangan sampai kampus kalah saing dengan “universitas warung kopi” yang lebih canggih dan terdepan dalam fasilitas internet dan kenyamanannya.

Sumber: Artikel ini dimuat di Harian Serambi Indonesia (6 Januari, 2016)

About Zamzami Zainuddin

Junior researcher & PhD student, The University of Hong Kong

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *